element




StopGlobalWarming.org

site statistics

Friday, November 16, 2007

Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference) di Bali 3-14 Desember 2007

Pada Conference of the Parties (COP)13/ Parties to the Protocol (MOP)-3 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang akan diadakan pada tanggal 3-14 Desember 2007 di Bali, Indonesia akan memfokuskan untuk mendesakkan 4 (empat) isu penting untuk dibahas yaitu:
1. Pelaksanaan Program Adaptasi Perubahan Iklim
Indonesia menganggap penting agar negara berkembang segera mempersiapkan diri dari kemungkinan bencana yang terkait perubahan iklim seperti badai tropis, banjir, kekeringan, longsor, abrasi, erosi, puso, dan gangguan kesehatan yang semakin sering terjadi dengan besaran dampak/resiko yang semakin besar.
Hal utama yang perlu segera ditangani di negara berkembang adalah peralatan/teknologi untuk memprediksi cuaca yang akurat dan canggih termasuk sumberdaya manusia dan dukungan pendanaan.
Dana global yang berasal dari hasil share of proceed sebesaar 2% dari proyek CDM untuk pengelolaan adaptasi di seluruh dunia dinilai sangatlah kecil. Oleh karena itu sumber pendanaan lain perlu dicari, misaInya ODA (Overseas Development Assistance).
Mengenai institusi operasional pengelolaan dana adaptasi, negara maju sangat menginginkan GEF (Global Environmental Facilities) diberi mandat mengelola dana tersebut. Sebaliknya kelompok negara berkembang (G 77 dan China) sangat menginginkan bukan GEF. Namun Indonesia tidak mempermasalahkan institusi mana yang akan diberi mandat selama prosedur dan mekanisme-nya jelas, sederhana, dan transparan.
Posisi Indonesia :
a. Mendorong segera ditetapkannya institusi pengelola dana adaptasi dengan mekanisme yang tidak rumit;
b. Kemudahan dalam pertukaran informasi terkait dengan permodelan adaptasi perubahan iklim;
c. Perlu segera mendapatkan peralatan/teknologi untuk memprediksi cuaca yang akurat dan canggih;
d. Peningkatan kapasitas dalam adaptasi perubahan iklim.
2. Reducing Emission from Deforestation in Developing Country (REDD)
REDD terkait dengan 2 proposal utama dari Papua Nugini-Kosta Rika clan Brazil, yaitu:
a. Papua Nugini dan Kosta Rika (Coalition of tropical rainforest nations) mengusulkan adanya insentif bagi negara yang melakukan kegiatan konservasi hutan.
b. Brazil mengusulkan bagi setiap negara yang mampu melakukan usaha penurunan laju deforestasi terhadap baseline-nya, perlu mendapatkan kompensasi.
Pada saat COP-12 dan COP/MOP-2 UNFCCC di Nairobi, Kenya tahun 2006, posisi Indonesia adalah dapat memahami kedua proposal tersebut.
Posisi Indonesia :
a. Memasukkan RE (Reduction Emission) dan AD (Avoiding Deforestation) dengan memilah hutan ke dalam disturbed d an undisturbed forests dalam metode penghitungan kompensasi dari pengurangan emisi, yang dapat diimplementasikan di hutan dengan fungsi produksi dan/atau konservasi, serta mengajukan metodologi untuk deforestasi;
b. Mekanisme pendanaan market dan non-market, dengan tahapan persiapan melalui mekanisme non-market di bawah konvensi, dan dalam waktu yang sama mempersipkan perangkat untuk memasuki mekanisme pasar;
c. Memasukkan "degradasi hutan" dalam perhitungan;
d. Memasukkan mekanisme Forest Climate Related Mechanism (FCRM) yang bertujuan untuk mengakomodir segala kegiatan yang berkaitan dengan kehutanan, seperti Sustainable Forest Management (SFM) baik hutan buatan maupun hutan alami, pengelolaan hutan, dan rehabilitasi penurunan lahan melalui aforestasi dan reforestasi.
3. Transfer Telknologi
Pola transfer teknolog! dapat mengadopsi dari pola yang dilakukan oleh multilateral fund di bawah Protokol Montreal/Konvensi Wina, yaitu melakukan transfer teknologi ramah lingkungan kepada negara berkembang dalam penghapusan bahan perusak lapisan ozon. Hal serupa dapat dilaksanakan melalui mekanisme CDM dengan pendekatan penurunan gas rumah kaca secara sektoral dan programatik CDM.
Transfer teknologi ramah Lingkungan disebarluaskan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan sumberdaya yang ada di negara berkembang. Partisipasi sektor swasta merupakan isu utama, mengingat terbatasnya sumber pendanaan dari pemerintah maupun public funding. Di samping itu, sektor swasta mendominasi penguasaan teknologi.
Posisi Indonesia:
a. Dalam upaya transfer teknologi di bawah payung UNFCCC maupun Protokol Kyoto, diusulkan menggunaan metodologi pendanaan yang digunakan oleh Multilateral fund (MLF);
b. Dalam transfer teknologi disertai dengan program R&D (Research & Development) dan disesuaikan dengan teknologi yang sedang dikembangkan di Negara maju maupun di dalam negeri;

c. Diperlukan ketersediaan dana dengan mekanisme pendanaan yang tepat dan implementatif untuk mendukung pelaksanaan transfer teknologi;
4. Keberlanjutan komitmen atas pelaksanaan CDM dalam Protokol Kyoto
(Komitmen Negara maju dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca-GRK)
Pasca 2012 negara maju pada umumnya meminta negara berkembang terutama China dan India (large emmiter) untuk mempunyai komitmen penurunan emisi gas rumah kaca. Selain itu, Rusia mengusulkan proposal yang meminta Negara. berkembang berkomitmen secara sukarela untuk menurunkan emisi. Posisi G77 menolak kedua usulan komitmen tersebut,
Prinsip Common but Differentiated Responsibilities tetap menjadi posisi Indonesia untuk pasca 2012, Indonesia mengusulkan agar Negara maju tetap memiliki komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan mendorong pelaksanaannya, diantaranya melalui CDM. Salah satu upaya untuk mendorong pelaksanaan CDM adalah dengan menyederhanakan mekanisme registrasi di Executive Board.
Posisi Indonesia:
a. Meminta Negara maju tetap berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kacanya dan mendorong pelaksanaan CDM di negara berkembang pasca 2012;
b. Meminta negara maju yang belum meratifikasi Protokol Kyoto untuk segera meratifikasi agar terwujud penurunan emisi GRK.
Untuk memperkuat substansi keempat tersebut di atas, telah dibentuk kelompok kerja (Working Group) yang anggotanya terdiri atas instansi terkait, perguruan tinggi, dan LSM. Kelompok kerja tersebut adalah:
1. Adaptasi (Ketua: KLH);
2. Kehutanan (Ketua: DEPHUT);
3. Mekanisme Pendanaan (Ketua: BAPPENAS);
4. Mitigasi (Ketua: KLH);
5. Energi (Ketua: Dep. ESDM);
6. Post Kyoto (Ketua: DEPLU);
7. Transfer Teknologi (Ketua: BPPT).
Beberapa hal yang telah disampaikan oleh setiap Kelompok kerja adalah:
1. Adaptasi
Usulan posisi yang akan diperjuangkan adalah:
Pelaksanaan program adaptasi (Five-year program of Work) secara lebih nyata, khususnya:
• Pelaksanaan persiapan dalam menghadapi bencana yang tekait perubahan iklim;
• Penyediaan dan pertukaran data akurat secara regional;
• Pendirian pusat prediksi regional;
• Pengembangan permodelan komputer untuk memprediksi dampak dan mengurangi resiko bencana perubahan iklim.
Memperjuangkan agar program adaptasi dapat dilaksanakan oleh Negara berkembang dengan dukungan dana yang memadai. Usulan sumber pendanaan berasal dari: SOP (Share of Proceed)-CDM, ODA (Official Development Assistance) diluar alokasi 0,7%, Dana DRR (Disaster Risk Reduction), Dana M DGs (Millenium Development Goals).
2. Kehutanan
Hal-hal yang dipersiapkan mencakup kajian mekanisme insentif, aspek teknis dan metodologis serta identifikasi topik-topik riset untuk mendukung implementasi mekanisme REDD (mitigasi) dan adaptasi.
3. Mekanisme Pendanaan
Usulan posisi adalah:
Seluruh isuAdaptation Fund dapat diselesaikan dalam COP/MOP di Bali; Menemukan berbagai kemungkinan pembahasan Financing Mechanism selain Adaptation Fund (misalnya Trust Fund, ODA).
4. Mitigasi
Usulan posisi adalah:
• Mengembangkan energi terbarukan dan energi bersih, Meningkatkan Proyek CDM , misalnya mengembangkan aforestasi dan reforestasi (penghutanan kembali)
• Mengembangkan transportasi (MRT, efisien dan energi bersih-terbarukan, non-motorised)
• Mengembangkan pengelolaan sampah (konversi menjadi energi)
5. Energi
Usulan posisi adalah:
• Perlu adanya komitmen dari pihak swasta penghasil limbah untuk mengurangi emisinya sekitar 50% untuk diubah menjadi energi;
• Menyusun skenario (ideal dan reafistis) untuk dijadikan acuan bagi perencanaan di masa datang;
• Program pengurangan emisi dilakukan setiap departemen.
6. Post Kyoto
Usulan posisi ini adalah mengacu pada proposal Rusia dan mengusulkan kemungkinan second review.
7. Transfer Teknologi
Usulan posisi ini adalah:
• Sumber pendanaan dan ketersediaan teknologi;
• Kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pendanaan tersebut;
• Skema pendanaan dengan sistem yang inovatif dan mekanisme yang diperlukan;
• Sistem monitoring dan pelaporan;
• Sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku;
• Sesuai dengan keadaan lingkungan.

Sumber: http://www.menlh.go.id/unccc/web/UntitledFrameset-50.htm

Saturday, November 3, 2007

quantum ikhlas

quantum ikhlas/ adalah metode baru pendekatan diri kepada Allah Sang Khalik kita, dengan pendekatan islami, yaitu ikhlas..the Power of Positive Feeling.

Teknologi Quantum
Aplikasi science ilmu-pengetahuan di tingkat kuantum - untuk memudahkan hidup manusia.

Ikhlas

Menyerahkan diri kepada Tuhan. Menjalani hidup hanya untuk-Nya, dengan mengandalkan bimbingan dan bantuan-Nya disemua bidang kehidupan.

Teknologi Quantum Ikhlas®

Aplikasi science iptek yang secara kuantitatif dan kualitatif mengukur, melatih dan meningkatkan tingkat kompetensi keikhlasan di dasar hati manusia .


Quantum Ikhlas menerangkan cara (how-to) berupa "teknologi prosedur mental" yang bisa diaplikasikan dengan mudah dan pasti - bukan penjelasan konseptual teoritis belaka.

Karena bersifat teknologi, maka melalui ikhlas manusia memang otomatis menjadi lebih tenang, damai, bahagia dan sukses dalam hidup.

Bayangkanlah bagaimana rasanya jika anda bisa memperbaiki benchmark keikhlasan anda dengan pasti. Ketika anda berhasil ikhlas dengan "prosedur" yang benar berbagai tujuan mulia anda jadi lebih mudah diraih. Dan anda juga tahu, jika tujuan itu belum tercapai anda hanya tinggal menyempurnakan lagi prosedur keikhlasan di dalam pikiran dan hati anda.

Ikhlas Lewat Teknologi

Kami memahami pikiran dan perasaan yang menguasai setiap orang yang "ingin sukses" atau yang selalu "nyaris berhasil"... karena begitu pula kami dulu. Beruntung beberapa orang berhati mulia mau cukup bersabar terus menuntun sehingga saat ini hidup kami jauh lebih baik.

Kami berniat membalas kebaikan mereka dan melalui Katahati Institute kami berusaha menjangkau lebih banyak orang yang menginginkan perubahan dalam hidupnya.

HeartFocus!

Heartwave Management Training



The Ultimate Self-Development Technology



Tinggalkan masa lalu yang berat, melangkah ringan
ke masa depan. Temukan dunia penuh keajaiban yang selama ini tertutupi segala beban hidup. Teknologi transformasi diri yang sangat efektif. Dijamin!


Dalam tingkat yang lebih dalam - pada level Hati (system software) manusia - pelatihan HeartFocus! selain mempercepat proses transformasi-diri juga memberi berbagai pemahaman kebenaran hidup paradoksal yang akan membuat anda jauh lebih produktif dan efektif.

Penguasaan aplikasi teknologi praktis ini akan membawa anda ketingkat self-mastery yang membuat anda mampu mewujudkan berbagai niat anda dengan jauh lebih mudah dan menyenangkan.





Mencapai Ikhlas dengan Teknologi


KOLABORASI KECERDASAN OTAK
DAN KECERDASAN HATI





Gabungan kekuatan budaya Timur dengan ilmu pengetahuan 'new-sciences', kebijakan falsafah hidup, spiritualitas dan teknologi untuk meraih sukses total lahir-bathin yang holistik.



Seringkali kita dapati orang berbicara tentang ikhlas. Terlebih di tempat-tempat peribadatan, kata ikhlas terasa bagai pembicaraan yang menyejukkan hati. Namun, berapa banyak orang yang benar-benar dapat menghayati makna ikhlas hingga ke lubuk hati atau bahkan berhasil menjalaninya ?



Sebenarnya ikhlas adalah bagian terpenting dari pencapaian hidup manusia, sebab ikhlas adalah perilaku hidup tertinggi yang dipedomankan Tuhan kepada manusia. Di dalamnya terkandung makna kesabaran, kepasrahan dan penerimaan yang memungkinkan manusia semakin dekat dengan Tuhan. Apabila manusia mampu menghayatinya, itu berati ia mampu mencapai puncak kesuksesan, yaitu puncak kebahagian secara lahir bathin di dunia dan akhirat.



Ikhlas adalah kondisi perasaan di dalam hati. Karena itu belajar ikhlas juga berarti belajar melihat dengan hati, mendengar dengan hati, dan tentunya mengikuti kata hati. Kedengarannya memang mudah, tapi barangkali masih banyak diantara kita yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.



Menurut Pendiri Katahati Institute Erbe Sentanu, kesulitan mempelajari ikhlas adalah karena untuk meraih keikhlasan sebenarnya sederhana, tetapi karena kita biasa berpikir secara shopisticated dan complicated membuat kesederhanaan berikhlas menjadi sulit untuk dicerna apalagi diterapkan. Menurutnya Ikhlas itu merupakan aktivitas hati, sehingga untuk memahaminya kita harus mengistirahatkan pikiran dan mulai berlatih menggunakan hati. ”Dengan kata lain memindahkan kesadaran kita dari otak ke dalam hati.”



Untuk mencapai ikhlas, Katahati Institute memperkenalkan teknologi ikhlas. Teknologi ini berisi program aplikasi praktis ilmu pengetahuan modern untuk melatih, membuktikan, mengukur dan memproduksi tingkat keikhlasan hati seseorang - keterampilan praktis untuk memasuki ikhlas-zone (wilayah keikhlasan di dalam hati) yang menjamin kemudahan manusia meraih berbagai tujuan hidupnya.




MERAIH ZONA IKHLAS
(GOD-ZONE)





Teknologi Ikhlas merupakan Ultimate Self Development Technology untuk masyarakat Indonesia, merupakan hasil penggabungan kekuatan budaya timur dan barat serta ilmu pengetahuan terkini seperti Neuroscience, Quantum Physics, Evolutionary Biology, Chaos Theory, Brain Science, dan Science of the Mind serta tuntunan bijak falsafah hidup dan tauhid keagamaan - untuk meraih kesuksesan hidup yang holistik dan hakiki.



Seperti halnya semua teknologi, teknologi ikhlas juga bersifat otomatis. Kita tidak perlu mempercayainya untuk memperoleh manfaatnya. Seperti kita tidak perlu percaya kepada handphone yang dapat mengirim sebuah pesan pendek (sms), cukup dengan melakukan prosedur pengiriman dengan benar - sms terkirim.

Coba bayangkan bagimana rasanya jika kita bisa 100% meyakini tuntunan agama dan falsafah hidup kita bukan karena terpaksa apalagi dipaksa harus meyakininya, tetapi karena kerap terkabulnya doa kita yang dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri - nyaris setiap saat.



Karena kita tahu bahwa ketika kita sudah mampu hidup ikhlas dengan MENTAL FISIOLOGIS PROSEDUR yang benar, maka keinginan-keinginan menjadi jauh lebih mudah untuk diraih. Kita juga tahu bahwa jika kita masih belum mendapatkan yang diinginkan berarti kita hanya perlu menyempurnakan metode atau prosedur keikhlasan di dalam pikiran dan hati kita masing-masing.



MindFocus!
Brainwave Management


Untuk mencapai hal itu, pada tahap pertama Katahati Institute memberikan pelatihan MindFocus! brainwave management (pengelolaan gelombang frekuensi otak) untuk meraih ikhlas melalui otak dan pikiran. Dalam hal ini Katahati Institute memanfaatkan audio DigitalPrayer yang sudah diriset selama lebih dari 40 tahun di berbagai lembaga riset dan universitas-universitas di dunia. Aplikasinya sudah banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia, seperti menurunkan berat badan, meningkatkan fokus atau konsentrasi, relaksasi dan penyembuhan, subconscious reprogramming dan masih banyak lagi.



Bekerja sama dengan The Monroe Institute dari Amerika Serikat, Katahati Institute juga ikut meringankan beban stress dan trauma dari masyarakat dan relawan di Aceh dengan mengirimkan ribuan kaset audio brainwave management yang terbukti secara klinis mampu memberikan ketenangan dan membangkitkan semangat secara cepat dan akurat.



Dengan teknologi audio khusus dan spesifik, kita bisa mengaktifkan pikiran bawah sadar dan sifat-sifat keikhlasan dengan lebih mudah, lebih pasti, dan terukur.



Teknologi ini bisa membawa kita masuk ke dalam gelombang otak intuitif dan inspiratif secara instan, atau disebut dengan brainwave management. Metode ilmiah dan praktis yang belakangan kerap disebut sebagai teknologi meditasi instan ini merupakan akses menuju kekuatan bawah-sadar, dan merupakan syarat mutlak untuk semua self-transformation technology seperti: hipnoterapi, meditasi, relaksasi, pikiran khusyu, fokus dan konsentrasi.



HeartFocus! Heartwave Management Training secara "scientific dan ajaib" akan membuat anda terbebas dari:



1. Segala perasaan yang menekan dan

2. Berbagai kesulitan masalah hidup sehari-hari



Dan secara dramatis akan meningkatkan kemampuan anda dalam:



1. Profesional, Bisnis, dan Finansial

2. Menikmati Kemakmuran di Segala Bidang

3. Melimpahnya Rasa Syukur Yang Hakiki

3. Menemukan Rasa Cinta dan Kasih Sayang Sejati

4. Menciptakan Rasa Damai di Hati - Setiap Saat!


Kembalinya pemahaman beserta aplikasi teknologi Ikhlas ini memberikan kekuatan baru yang menumbuhkan keyakinan tentang petunjuk dan tuntunan sukses hidup paripurna seperti dituntunkan oleh para jenius dan leluhur bijak umat manusia.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:



Katahati Institute



JAKARTA

Telp: : (021) – 740 7400, 740 6800

Fax : (021) – 740 7400

Mobile : 0856 1990 777



BANDUNG

Telp: : (022) – 91122488

Mobile : 0811 208 225


SURABAYA

Telp: : (031) – 855 2222

Mobile : 0812 172 0036


SINGAPORE

Telp: : +65 63540027

Fax : +65 62582484

Mobile : +65 96171647


Email : info@e-katahati.org

Website : www.e-katahati.org

Saturday, October 27, 2007

Skenario Minyak 100 Dollar AS Per Barrel

hope it's not the end of the world....
gara2 smua org tiap hari sibuk membakar bumi ini...
damn people....

Lonjakan harga minyak hingga menyentuh level 90 dollar AS per barrel di New York Merchantile Exchange (NYME) pada 19 Oktober lalu mengisyaratkan skenario Peak Oil semakin menjadi kenyataan.

Beberapa tahun lalu orang tidak membayangkan harga minyak bisa setinggi ini, tetapi perkembangan beberapa tahun terakhir semakin menunjukkan bukan tidak mungkin prediksi harga mencapai 100 dollar AS per barrel bisa terwujud dalam waktu dekat.

Pada September 2003, harga rata-rata minyak mentah standar di NYME masih di bawah 25 dollar AS per barrel. Juni 2005 sudah di atas 60 dollar AS per barrel, Mei 2007 di atas 80 dollar AS, dan 19 Oktober lalu sempat tembus 90 dollar AS per barrel. Meningkat sekitar 75 persen hanya dalam tahun ini. Pada level sekarang ini, harga minyak mentah terhitung sudah naik di atas 300 persen dibandingkan dengan tahun 1990.

Harga 90 dollar AS per barrel itu mendekati harga tertinggi dalam sejarah yang terjadi tahun 1980 (di puncak krisis Irak-Iran), yang kalau dikurskan dengan kurs sekarang setara 95 dollar AS per barrel. Saat itu lonjakan harga tersebut mengakibatkan resesi ekonomi dunia.

Faktor geopolitis, yakni meningkatnya ketegangan antara Turki dan Irak, memang ikut memicu pergerakan dramatis harga minyak sepanjang pekan lalu, selain faktor lain seperti meningkatnya kebutuhan minyak musim dingin di belahan bumi utara, menipisnya cadangan minyak AS, dan kekhawatiran menyangkut badai yang bisa mengganggu produksi minyak AS.

Tetapi, terlepas dari ikut bermainnya faktor geopolitis yang sifatnya insidental, faktor fundamental, berupa ketidakseimbangan suplai dan permintaan, tetap menjadi penentu penting pergerakan harga minyak mentah di pasar dunia sekarang ini.

Harga 90 dollar AS bisa jadi baru pemanasan karena secara fundamental pasar diperkirakan akan tetap ketat, dengan permintaan minyak beberapa tahun ke depan diperkirakan akan tetap tinggi. Lonjakan permintaan terutama berasal dari negara-negara Asia non-Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) seperti China dan India yang mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 10 persen per tahun dan tidak ada tanda-tanda melambat sampai sekarang.

Prediksi harga minyak akan segera menyentuh 100 dollar AS per barrel yang semua dianggap mustahil antara lain dilontarkan para penganut Peak Oil Theory.

Peak Oil Theory yang dimotori ahli geologi minyak AS, King Hubbert, meyakini produksi minyak mentah global sekarang ini sudah atau akan segera mencapai titik jenuhnya, untuk kemudian stagnan, sebelum akhirnya mengalami penurunan dengan cepat secara permanen.

Peningkatan produksi

Sementara kubu penentangnya meyakini produksi masih akan meningkat hingga 2040 atau 2050 dengan ditemukannya sumber-sumber produksi baru atau ditingkatkannya produksi di sumur-sumur lama melalui teknologi yang lebih canggih.

Cambridge Energy Research Associates (CERA), misalnya, mengatakan sisa cadangan minyak global masih 3,74 triliun barrel, tiga kali lipat lebih besar dari yang disebutkan penganut Peak Oil. Dan itu masih bisa meningkat lagi.

Sayangnya, kecenderungan beberapa tahun terakhir ini lebih berpihak pada penganut teori Peak Oil. Beberapa indikasinya, lapangan Cantarell di Teluk Meksiko yang sudah berproduksi sejak 1971 dan merupakan lapangan minyak kedua terbesar dunia sudah tua dan terus menurun produksinya.

Lapangan terbesar, Ghawar di Arab Saudi, dan lapangan Burgan di Kuwait yang juga masuk lima besar, juga menunjukkan gejala sama. Sejak 1990, hanya ada satu lapangan baru besar yang ditemukan, yang bisa diharapkan mampu berproduksi hingga 500.000 barrel per hari (bph) pada kapasitas puncaknya, yakni lapangan Kahagan di Kazakhstan.

Padahal, teknologi perminyakan sudah sedemikian berkembang dan canggih, serta mampu meningkatkan keberhasilan penemuan dari 25 persen tahun 1990-an menjadi 45 persen. Teknologi enhanced recovery juga berhasil meningkatkan jumlah minyak yang berhasil diangkat dari sumur dari 20 persen menjadi 60 persen.

Namun, dengan kemajuan teknologi yang pesat ini pun, produksi tetap tak mampu mengimbangi permintaan. Teknologi mahal ini justru mengakibatkan semakin mahalnya biaya memproduksi minyak mentah dunia. Sebagai gambaran, untuk bisa mengantongi untung 10 persen, perusahaan minyak di Kanada setidaknya harus mematok harga jual 60 dollar AS per barrel.

Skenario referensi yang dibuat Energy Information Administration/EIA (Annual Energy Outlook 2007/IEO2007) memprediksikan konsumsi minyak dan bahan bakar cair lain seperti etanol, batu bara cair, dan LNG cair akan meningkat dari 83 juta bph setara minyak tahun 2004 menjadi 97 juta bph tahun 2015 dan 118 juta bph tahun 2030.

Sedangkan berdasarkan skenario tinggi (high price case), harga minyak diproyeksikan mencapai 157 dollar AS per barrel secara nominal pada 2030. Sebagai catatan prediksi harga EIA selama ini selalu terlampaui.

Selama ini harga minyak lebih banyak dikendalikan oleh kartel Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan oligopoli segelintir perusahaan minyak raksasa negara maju. Selain faktor suplai dan permintaan, spekulan juga ikut bermain. Beberapa analis memperkirakan dari 80 dollar AS per barrel harga minyak sekarang ini, sekitar 10 dollar AS di antaranya adalah karena peran spekulasi hedge funds.

Di luar itu masih banyak faktor lain yang juga bisa memengaruhi harga minyak, termasuk faktor geopolitis, krisis politik, pemogokan buruh, gangguan teroris, dan badai. Banyak yang menduga invasi atau serangan AS ke Iran akan sangat berdampak katastropik terhadap pasar dan harga minyak.

Tingginya harga minyak, ditambah dampak krisis kredit perumahan kelas dua di AS (subprime mortgage) di AS sekarang ini, dikhawatirkan bakal menyeret perekonomian AS dan kemudian perekonomian dunia dalam resesi.

Spekulasi yang berkembang, resesi di AS akan membuat permintaan akan minyak mentah juga turun (mengingat AS adalah konsumen terbesar minyak), sehingga tekanan dari sisi permintaan juga turun dan harga minyak dunia pun akan turun. Artinya, sebelum mencapai level 100 dollar AS per barrel, harga akan turun. Tetapi apakah betul begitu?

Sayangnya, tidak semuanya yakin resesi di AS pun bakal mampu mengerem permintaan dunia. Kalaupun permintaan AS turun, permintaan negara-negara berkembang emerging market diperkirakan akan terus meningkat. Karakteristik pasar minyak mentah dunia sekarang ini, menurut EIA dan OECD, ditandai oleh terus meningkatnya konsumsi (terutama dari China dan India), pertumbuhan pasokan non- OPEC yang hanya moderat, terus menurunnya stok (inventori) minyak di AS, dan meningkatnya permintaan terhadap minyak produksi OPEC.

Dari gambaran ini, tekanan harga minyak sekarang ini diprediksi bakal terus berlanjut pada 2008, terutama jika laju pertumbuhan konsumsi minyak dunia tidak dapat direm. Ditambah lagi dengan adanya skeptisme bakal terealisasinya proyeksi tambahan pasokan 2 juta barrel (1,2 juta bph dari OPEC dan 860.000 bph dari non-OPEC ) di tengah kondisi geopolitis seperti sekarang.

Selain itu, ada kecenderungan negara-negara penghasil minyak sendiri, termasuk produsen besar OPEC di Timur Tengah (Timteng), menahan sebagian produksi minyak di dalam negerinya. Salah satu indikasi yang disebut Goldman Sachs, misalnya, ekspor minyak Timteng sekarang ini lebih rendah dari tahun 2000, padahal produksi mereka meningkat 2 juta barrel per hari.

Peningkatan pendapatan negara-negara eksportir minyak mencapai 850 miliar dollar AS selama kurun 1999-2005. Nilai cadangan minyak yang mereka kuasai juga meningkat lebih dari 40 triliun dollar AS antara tahun 1999 dan tahun 2005.

Permanen

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan "Oil Price and Global Imbalances" memprediksikan tekanan harga minyak sekarang ini bakal bertahan atau permanen. Ini bedanya dengan oil shock sebelumnya. Dari perspektif historis, separuh lonjakan harga minyak 1973-1974 terbukti permanen/berlanjut, sementara oil shock 1979-1981 akhirnya berbalik.

Untuk yang sekarang ini, ekspektasi pasar maupun penilaian terhadap fundamental jangka menengah pasar minyak mengisyaratkan sebagian besar tren kenaikan sifatnya permanen atau bertahan. Artinya, kemungkinan koreksi atau turun, kecil.

Prediksi jangka menengah IEA juga memperkirakan kondisi pasar minyak dunia akan tetap ketat lima tahun mendatang, dengan pertumbuhan konsumsi 2,2 persen per tahun, sementara pasokan dari non-OPEC hanya meningkat 1 persen per tahun sebelum akhirnya stagnan. Ini akan semakin mempertinggi tensi dan ketergantungan negara-negara maju pada OPEC.

OPEC akan dipaksa menggenjot produksi dari 31,3 juta bph sekarang ini menjadi 36,2 juta bph tahun 2012 sehingga berakibat kapasitas tersisa hanya 1,6 persen dari permintaan global, dari sekarang 2,9 persen.

Beberapa negara mengantisipasi prospek melonjaknya harga minyak ini dengan menimbun stok dan melakukan lindung nilai (hedging) sejak jauh-jauh hari.

Langkah Venezuela menasionalisasi proyek-proyek minyak perusahaan-perusahaan minyak asing mulai menginspirasi dan diikuti negara lain untuk mengamankan kepentingan jangka panjang mereka. Pada 22 Juni lalu Rusia memaksa BP menjual mayoritas saham di lapangan gas raksasa di Siberia, Kovykta, seharga sekitar 700 juta dollar AS.

Tahun sebelumnya, Royal Dutch Shell PLC juga dipaksa melepas kontrol mayoritas atas proyek gas Sakhalin II di Timur Jauh, dan Rusia kini juga tengah melakukan tekanan serupa terhadap ExxonMobil di lapangan lain tidak jauh dari situ.

Negara-negara lain melakukan tidak hanya dalam harga, tetapi juga hedging sejak di perut bumi. Contohnya China. Mengantisipasi kebutuhan energi untuk mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi tingginya, negara ini sangat agresif dalam perburuan minyak. Mereka tidak hanya menandatangani berbagai kontrak besar jangka panjang pasokan migas dan sumber energi fosil lain seperti batu bara dengan negara-negara pemilik deposit besar, tetapi BUMN-BUMN minyaknya juga agresif mengakuisisi saham perusahaan-perusahaan minyak dan investasi eksplorasi di berbagai negara.

Selain permintaan yang pasti akan terus meningkat, situasi ke depan masih penuh ketidakpastian dan negara-negara yang tak mampu mengantisipasi dan menyiasati kondisi ini bakal menjadi korban paling menyedihkan dari situasi yang serba sulit diprediksi ini. (sri hartati samhadi)

Skenario Minyak 100 Dollar AS Per Barrel




hope it's not the end of the world....

gara2 smua org tiap hari sibuk membakar bumi ini...
damn people....

Lonjakan harga minyak hingga menyentuh level 98 dollar AS per barrel (data 7 november 2007) di New York Merchantile Exchange (NYME) pada 19 Oktober lalu mengisyaratkan skenario Peak Oil semakin menjadi kenyataan.

Beberapa tahun lalu orang tidak membayangkan harga minyak bisa setinggi ini, tetapi perkembangan beberapa tahun terakhir semakin menunjukkan bukan tidak mungkin prediksi harga mencapai 100 dollar AS per barrel bisa terwujud dalam waktu dekat.

Pada September 2003, harga rata-rata minyak mentah standar di NYME masih di bawah 25 dollar AS per barrel. Juni 2005 sudah di atas 60 dollar AS per barrel, Mei 2007 di atas 80 dollar AS, dan 19 Oktober lalu sempat tembus 90 dollar AS per barrel. Meningkat sekitar 75 persen hanya dalam tahun ini. Pada level sekarang ini, harga minyak mentah terhitung sudah naik di atas 300 persen dibandingkan dengan tahun 1990.

Harga 90 dollar AS per barrel itu mendekati harga tertinggi dalam sejarah yang terjadi tahun 1980 (di puncak krisis Irak-Iran), yang kalau dikurskan dengan kurs sekarang setara 95 dollar AS per barrel. Saat itu lonjakan harga tersebut mengakibatkan resesi ekonomi dunia.

Faktor geopolitis, yakni meningkatnya ketegangan antara Turki dan Irak, memang ikut memicu pergerakan dramatis harga minyak sepanjang pekan lalu, selain faktor lain seperti meningkatnya kebutuhan minyak musim dingin di belahan bumi utara, menipisnya cadangan minyak AS, dan kekhawatiran menyangkut badai yang bisa mengganggu produksi minyak AS.

Tetapi, terlepas dari ikut bermainnya faktor geopolitis yang sifatnya insidental, faktor fundamental, berupa ketidakseimbangan suplai dan permintaan, tetap menjadi penentu penting pergerakan harga minyak mentah di pasar dunia sekarang ini.

Harga 98 dollar AS bisa jadi baru pemanasan karena secara fundamental pasar diperkirakan akan tetap ketat, dengan permintaan minyak beberapa tahun ke depan diperkirakan akan tetap tinggi. Lonjakan permintaan terutama berasal dari negara-negara Asia non-Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) seperti China dan India yang mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 10 persen per tahun dan tidak ada tanda-tanda melambat sampai sekarang.

Prediksi harga minyak akan segera menyentuh 100 dollar AS per barrel yang semua dianggap mustahil antara lain dilontarkan para penganut Peak Oil Theory.

Peak Oil Theory yang dimotori ahli geologi minyak AS, King Hubbert, meyakini produksi minyak mentah global sekarang ini sudah atau akan segera mencapai titik jenuhnya, untuk kemudian stagnan, sebelum akhirnya mengalami penurunan dengan cepat secara permanen.

Peningkatan produksi

Sementara kubu penentangnya meyakini produksi masih akan meningkat hingga 2040 atau 2050 dengan ditemukannya sumber-sumber produksi baru atau ditingkatkannya produksi di sumur-sumur lama melalui teknologi yang lebih canggih.

Cambridge Energy Research Associates (CERA), misalnya, mengatakan sisa cadangan minyak global masih 3,74 triliun barrel, tiga kali lipat lebih besar dari yang disebutkan penganut Peak Oil. Dan itu masih bisa meningkat lagi.

Sayangnya, kecenderungan beberapa tahun terakhir ini lebih berpihak pada penganut teori Peak Oil. Beberapa indikasinya, lapangan Cantarell di Teluk Meksiko yang sudah berproduksi sejak 1971 dan merupakan lapangan minyak kedua terbesar dunia sudah tua dan terus menurun produksinya.

Lapangan terbesar, Ghawar di Arab Saudi, dan lapangan Burgan di Kuwait yang juga masuk lima besar, juga menunjukkan gejala sama. Sejak 1990, hanya ada satu lapangan baru besar yang ditemukan, yang bisa diharapkan mampu berproduksi hingga 500.000 barrel per hari (bph) pada kapasitas puncaknya, yakni lapangan Kahagan di Kazakhstan.

Padahal, teknologi perminyakan sudah sedemikian berkembang dan canggih, serta mampu meningkatkan keberhasilan penemuan dari 25 persen tahun 1990-an menjadi 45 persen. Teknologi enhanced recovery juga berhasil meningkatkan jumlah minyak yang berhasil diangkat dari sumur dari 20 persen menjadi 60 persen.

Namun, dengan kemajuan teknologi yang pesat ini pun, produksi tetap tak mampu mengimbangi permintaan. Teknologi mahal ini justru mengakibatkan semakin mahalnya biaya memproduksi minyak mentah dunia. Sebagai gambaran, untuk bisa mengantongi untung 10 persen, perusahaan minyak di Kanada setidaknya harus mematok harga jual 60 dollar AS per barrel.

Skenario referensi yang dibuat Energy Information Administration/EIA (Annual Energy Outlook 2007/IEO2007) memprediksikan konsumsi minyak dan bahan bakar cair lain seperti etanol, batu bara cair, dan LNG cair akan meningkat dari 83 juta bph setara minyak tahun 2004 menjadi 97 juta bph tahun 2015 dan 118 juta bph tahun 2030.

Sedangkan berdasarkan skenario tinggi (high price case), harga minyak diproyeksikan mencapai 157 dollar AS per barrel secara nominal pada 2030. Sebagai catatan prediksi harga EIA selama ini selalu terlampaui.

Selama ini harga minyak lebih banyak dikendalikan oleh kartel Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan oligopoli segelintir perusahaan minyak raksasa negara maju. Selain faktor suplai dan permintaan, spekulan juga ikut bermain. Beberapa analis memperkirakan dari 80 dollar AS per barrel harga minyak sekarang ini, sekitar 10 dollar AS di antaranya adalah karena peran spekulasi hedge funds.

Di luar itu masih banyak faktor lain yang juga bisa memengaruhi harga minyak, termasuk faktor geopolitis, krisis politik, pemogokan buruh, gangguan teroris, dan badai. Banyak yang menduga invasi atau serangan AS ke Iran akan sangat berdampak katastropik terhadap pasar dan harga minyak.

Tingginya harga minyak, ditambah dampak krisis kredit perumahan kelas dua di AS (subprime mortgage) di AS sekarang ini, dikhawatirkan bakal menyeret perekonomian AS dan kemudian perekonomian dunia dalam resesi.

Spekulasi yang berkembang, resesi di AS akan membuat permintaan akan minyak mentah juga turun (mengingat AS adalah konsumen terbesar minyak), sehingga tekanan dari sisi permintaan juga turun dan harga minyak dunia pun akan turun. Artinya, sebelum mencapai level 100 dollar AS per barrel, harga akan turun. Tetapi apakah betul begitu?

Sayangnya, tidak semuanya yakin resesi di AS pun bakal mampu mengerem permintaan dunia. Kalaupun permintaan AS turun, permintaan negara-negara berkembang emerging market diperkirakan akan terus meningkat. Karakteristik pasar minyak mentah dunia sekarang ini, menurut EIA dan OECD, ditandai oleh terus meningkatnya konsumsi (terutama dari China dan India), pertumbuhan pasokan non- OPEC yang hanya moderat, terus menurunnya stok (inventori) minyak di AS, dan meningkatnya permintaan terhadap minyak produksi OPEC.

Dari gambaran ini, tekanan harga minyak sekarang ini diprediksi bakal terus berlanjut pada 2008, terutama jika laju pertumbuhan konsumsi minyak dunia tidak dapat direm. Ditambah lagi dengan adanya skeptisme bakal terealisasinya proyeksi tambahan pasokan 2 juta barrel (1,2 juta bph dari OPEC dan 860.000 bph dari non-OPEC ) di tengah kondisi geopolitis seperti sekarang.

Selain itu, ada kecenderungan negara-negara penghasil minyak sendiri, termasuk produsen besar OPEC di Timur Tengah (Timteng), menahan sebagian produksi minyak di dalam negerinya. Salah satu indikasi yang disebut Goldman Sachs, misalnya, ekspor minyak Timteng sekarang ini lebih rendah dari tahun 2000, padahal produksi mereka meningkat 2 juta barrel per hari.

Peningkatan pendapatan negara-negara eksportir minyak mencapai 850 miliar dollar AS selama kurun 1999-2005. Nilai cadangan minyak yang mereka kuasai juga meningkat lebih dari 40 triliun dollar AS antara tahun 1999 dan tahun 2005.

Permanen

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan "Oil Price and Global Imbalances" memprediksikan tekanan harga minyak sekarang ini bakal bertahan atau permanen. Ini bedanya dengan oil shock sebelumnya. Dari perspektif historis, separuh lonjakan harga minyak 1973-1974 terbukti permanen/berlanjut, sementara oil shock 1979-1981 akhirnya berbalik.

Untuk yang sekarang ini, ekspektasi pasar maupun penilaian terhadap fundamental jangka menengah pasar minyak mengisyaratkan sebagian besar tren kenaikan sifatnya permanen atau bertahan. Artinya, kemungkinan koreksi atau turun, kecil.

Prediksi jangka menengah IEA juga memperkirakan kondisi pasar minyak dunia akan tetap ketat lima tahun mendatang, dengan pertumbuhan konsumsi 2,2 persen per tahun, sementara pasokan dari non-OPEC hanya meningkat 1 persen per tahun sebelum akhirnya stagnan. Ini akan semakin mempertinggi tensi dan ketergantungan negara-negara maju pada OPEC.

OPEC akan dipaksa menggenjot produksi dari 31,3 juta bph sekarang ini menjadi 36,2 juta bph tahun 2012 sehingga berakibat kapasitas tersisa hanya 1,6 persen dari permintaan global, dari sekarang 2,9 persen.

Beberapa negara mengantisipasi prospek melonjaknya harga minyak ini dengan menimbun stok dan melakukan lindung nilai (hedging) sejak jauh-jauh hari.Negara2 penghasil polusi terbesar di dunia, seperti Amerika, China, dan India, sudah mulai rakus melahap hampir semua tempat dan blok penambangan minyak, di seluruh dunia, itu demi memenuhi kebutuhan produksi mereka yang semakin meningkat, dan tidak berimbang dgn sumber daya alam yang mereka miliki.

Langkah Venezuela menasionalisasi proyek-proyek minyak perusahaan-perusahaan minyak asing mulai menginspirasi dan diikuti negara lain untuk mengamankan kepentingan jangka panjang mereka. Pada 22 Juni lalu Rusia memaksa BP menjual mayoritas saham di lapangan gas raksasa di Siberia, Kovykta, seharga sekitar 700 juta dollar AS.

Tahun sebelumnya, Royal Dutch Shell PLC juga dipaksa melepas kontrol mayoritas atas proyek gas Sakhalin II di Timur Jauh, dan Rusia kini juga tengah melakukan tekanan serupa terhadap ExxonMobil di lapangan lain tidak jauh dari situ.

Negara-negara lain melakukan tidak hanya dalam harga, tetapi juga hedging sejak di perut bumi. Contohnya China. Mengantisipasi kebutuhan energi untuk mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi tingginya, negara ini sangat agresif dalam perburuan minyak. Mereka tidak hanya menandatangani berbagai kontrak besar jangka panjang pasokan migas dan sumber energi fosil lain seperti batu bara dengan negara-negara pemilik deposit besar, tetapi BUMN-BUMN minyaknya juga agresif mengakuisisi saham perusahaan-perusahaan minyak dan investasi eksplorasi di berbagai negara.

imbas, naiknya harga minyak, karena adanya supply yang menipis, dan kebutuhan yang semakin banyak.juga menaikkan harga mata uang

Selain permintaan yang pasti akan terus meningkat, situasi ke depan masih penuh ketidakpastian dan negara-negara yang tak mampu mengantisipasi dan menyiasati kondisi ini bakal menjadi korban paling menyedihkan dari situasi yang serba sulit diprediksi ini. (sri hartati samhadi)

Sektor Industri gagap terhadap Lonjakan Harga Minyak

Sektor Industri
Gagap terhadap Lonjakan Harga Minyak

Oleh Ahmad Arif

Kecenderungan harga minyak bumi di pasar internasional yang terus naik sejak tahun 2004 selama ini disikapi lamban oleh kalangan industri di Indonesia. Ketika kini harga minyak telah menyentuh harga 90 dollar Amerika Serikat per barrel, barulah mereka kalang kabut. Masih adakah kesempatan untuk mengatasi dampak kenaikan harga minyak global ini?

Pengamat perminyakan Kurtubi menilai harga minyak dunia kemungkinan akan terus melambung hingga triwulan I-2008 karena permintaan minyak dunia terus melonjak, tanpa diikuti lonjakan produksi. Ketegangan Turki dengan Kurdi di Irak juga dianggap menakutkan para konsumen sehingga mereka memburu minyak. "Jika kondisi geopolitik ini terus memanas, kenaikan harga minyak bisa mencapai angka 100 dollar AS per barrel," kata Kurtubi.

Jika janji pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ditepati, setidaknya hingga Pemilihan Umum 2009, masyarakat tidak akan terkena dampak langsung dari kenaikan harga minyak global.

Tetapi, lain halnya dengan sektor industri, yang bergantung pada pasokan listrik PLN dan BBM nonsubsidi. Mereka tentu akan terkena dampak langsung dengan naiknya harga energi yang menjadi komponen penting dalam produksi.

Peneliti dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) Pri Agung Rakhmanto menyebutkan, kenaikan harga minyak yang menyentuh angka hingga 90 dollar AS per barrel akan memicu kenaikan harga BBM industri dalam negeri sekitar 10 persen. Biaya produksi pun akan naik, dan harga produk kemungkinan akan melambung lebih dari 10 persen.

"Industri yang akan banyak terbebani dengan kenaikan harga minyak adalah yang yang padat menggunakan energi, di antaranya tekstil, perikanan, pabrik sepatu, semen, dan plastik," kata Kurtubi.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) EG Ismy mengatakan, kalangan pengusaha tekstil termasuk yang paling terpukul dengan kenaikan harga minyak dunia. Itu karena sebagian besar pengusaha tekstil masih bergantung pada bahan bakar minyak dan pasokan listrik PLN nonsubsidi untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

Belanja energi merupakan komponen biaya kedua terbesar pada perusahaan tekstil, yaitu mencapai 18 persen dari total biaya produksi. Sedangkan biaya untuk membeli bahan baku dan bahan pembantu sebesar 58 persen, membayar tenaga kerja 16 persen, dan sisanya sebesar 8 persen untuk membayar bunga bank, pungutan, administrasi, serta pemasaran.

Dengan kenaikan harga energi, komponen biaya yang bisa diubah hanyalah pengurangan bahan baku dan bahan pembantu, serta upah untuk tenaga kerja. "Komponen lain tak bisa diutak-atik lagi," kata Ismy.

Diversifikasi energi

Seharusnya kenaikan harga minyak ini tak menjadi masalah lagi bagi sektor industri karena kecenderungan kenaikan harga minyak sudah terjadi sejak lama. "Seharusnya mereka sudah beradaptasi dengan melakukan efisiensi dan mengganti bahan bakar minyak dengan bahan bakar lain yang lebih murah, seperti batu bara dan gas," kata Kurtubi.

Tetapi, kenyataan berbicara lain. Sebagian besar industri di Indonesia, yang padat energi seperti tekstil, masih bergantung pada minyak bumi. Ismy menyebutkan, baru 20 dari 200 perusahaan tekstil di tingkat hulu yang mulai menggunakan batu bara. Itu pun perbandingan batu bara masih 30 persen dari seluruh komponen energi.

Masalah tambah gawat karena banyak mesin industri di Indonesia yang tergolong kedaluwarsa. Mesin-mesin tua ini lebih boros menyedot bahan bakar dalam proses produksi. Oleh sebab itu, desakan efisiensi melalui peremajaan mesin di Indonesia menjadi mutlak.

Masalahnya, industri kita sulit melakukan itu, karena untuk membangun industri modern yang efisien harus ada kredit investasi jangka panjang dari perbankan. Sekarang, tak ada lagi bank yang mau investasi seperti itu.

Menurut Ismy, penggunaan batu bara untuk industri masih sarat masalah. Di antaranya, kendala lingkungan dan hambatan integrasi energinya dengan PLN. Kalangan pengusaha juga meragukan keberlanjutan penggunaan batu bara karena pasar luar negeri tidak bisa menerima produk yang dinilai tidak ramah lingkungan. Sementara, batu bara dinilai sebagai salah satu yang tidak ramah lingkungan.

Sikap aparatur pemerintah sendiri juga masih terbelah. "Di satu sisi, kita didorong menggunakan batu bara, tetapi di sisi lain Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) masih menilai limbah batu bara termasuk bahan berbahaya dan beracun," kata Ismy.

Pengelolaan limbah batu bara memang masih menjadi masalah serius. "Ada anggota kami menggunakan limbahnya untuk membuat batako dan tiang listrik, tapi kemudian didatangi polisi karena dinilai izin kami hanya membuat tekstil, bukan membuat batako. Padahal, itu upaya untuk mengatasi masalah limbah batu bara," kata Ismy.

Di sisi lain, PLN juga melarang sinkronisasi arus listrik mereka dengan energi yang dihasilkan dari batu bara milik industri. Jaminan ketersediaan pasokan batu bara untuk industri dalam negeri juga masih belum diatur dengan perangkat perundang-undangan sehingga banyak kalangan industri yang ragu-ragu untuk berubah ke batu bara. "Mekanismenya di lapangan memang masih banyak masalah," kata Ismy.

Terlambat beradaptasi

Menurut Kurtubi, kunci untuk mengatasi masalah energi yang dihadapi oleh industri adalah secepatnya mengurangi ketergantungan industri dari minyak ke bahan bakar lain yang lebih murah, seperti batu bara dan gas. "Ke depan seharusnya ada petunjuk pelaksanaan yang jelas, bagaimana industri-industri ini bisa mengonversikan energi dari minyak ke batu bara atau sumber energi lain yang lebih murah," jelas dia.

Ini berarti, pemerintah harus jelas dan mempersiapkan prasarana batu bara, meliputi masalah pengangkutan. "Industri lokasi di mana, dan sampai berapa lama akan memakai batu bara. Juga jaminan ketersediaan pasokan untuk industri dalam negeri harus jelas," kata Kurtubi.

Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi batu bara dalam negeri masih sangat kecil jika dibandingkan dengan yang diekspor. Pada tahun 2006, sebanyak 129,504 juta ton batu bara diekspor, dan hanya 39,208 juta ton yang digunakan untuk dalam negeri. Itu pun sebagian besar konsumsi dalam negeri untuk pasokan PLN.

Menurut Agung, adaptasi sektor industri terhadap kenaikan harga minyak sudah sangat terlambat. Berbeda dengan China, yang secara serius menggunakan batu bara sebagai salah satu sumber energinya untuk mengurangi penggunaan minyak. Brasil adalah contoh negara lain yang sukses melakukan diversifikasi energi dengan etanol. "Sementara kita belum apa-apa," katanya.

Wednesday, October 24, 2007

AL GORE MERAIH NOBEL




Oslo: Seperti yang diduga, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore akhirnya memenangkan hadiah nobel tahun ini. Ketua Komite Nobel Norwegia Ole Danbolt menyatakan, Al Gore dinilai layak menerima hadiah nobel karena upayanya menyebarluaskan pengetahuan tentang perubahan iklim yang terjadi akibat ulah manusia.

Al Gore juga telah memberikan dasar pengetahuan bagaimana memerangi perubahan iklim tersebut. Al Gore dinilai memiliki komitmen yang kuat terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari aktivitasnya, baik di bidang politik maupun pendidikan. Al Gore telah lama menjadi politisi peduli lingkungan yang selalu memberikan wawasan atas perlunya langkah untuk menghadapi perubahan iklim.

Al Gore tidak sendiri. Komite Nobel Norwegia juga memberikan hadiah kepada sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang khusus menangani perubahan lingkungan, Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC).(DOR)



OSLO, Norway - Former Vice President Al Gore was nominated for the 2007 Nobel Peace Prize for his wide-reaching efforts to draw the world’s attention to the dangers of global warming, a Norwegian lawmaker said Thursday.

“A prerequisite for winning the Nobel Peace Prize is making a difference, and Al Gore has made a difference,” Conservative Member of Parliament Boerge Brende, a former minister of environment and then of trade, told The Associated Press.

Brende said he joined political opponent Heidi Soerensen of the Socialist Left Party to nominate Gore as well as Canadian Inuit activist Sheila Watt-Cloutier before the nomination deadline expired Thursday.

“Al Gore, like no other, has put climate change on the agenda. Gore uses his position to get politicians to understand, while Sheila works from the ground up,” Brende said.

"I think climate change is the biggest challenge we face in this century," Brende said.

During eight years as Bill Clinton’s vice president, Gore pushed for climate measures, including the Kyoto Treaty. Since leaving office in 2001 he has campaigned worldwide, including with his Oscar-nominated documentary on climate change called “An Inconvenient Truth.”

Norwegian lawmakers are among the thousands of people and groups with rights to nominate Nobel candidates. Others include members of national governments, past laureates, members of the awards committee and its staff, and many university professors.

The winner is traditionally announced in mid-October, with the prize always presented on the Dec. 10 anniversary of the death of its creator, Swedish industrialist Alfred Nobel.

Thursday, October 11, 2007

sekotak penuh rindu

sengaja kusimpan rindu ini, dalam kotak yang rapat..
dgn sedikit lubang hawa, biar harumnya tetap merebak
biar rindu masih bisa bebas bergerak...tertiup angin..
semoga sampai pada mu... kekasihku...

dan bila tiba, saatnya kita bertemu..
akan kupersembahkan padamu..
sekotak penuh rindu.tanpa bungkus kado
seadanya, semampunya..