element




StopGlobalWarming.org

site statistics

Saturday, January 5, 2008

277 Rumah di Kepulauan Seribu Tersapu ombak



JAKARTA, KCM – Setidaknya 277 rumah di Kelurahan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu rusak ringan dan berat akibat sapu angin puting beliung pagi tadi. Jumlah rumah rusak terbanyak ada di Pulau Harapan, sekitar 257 rumah.

“Ini masih perhitungan sementara. Kami masih menghitung berapa kerugian. Tapi, alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Hanya dua orang yang dilarikan ke rumah sakit karena tertimpa pohon kelapa,” ujar Bupati Kepulauan Seribu, Djoko Ramadhan, saat dihubungi lewat telepon, Sabtu (5/1).

Menurut dia, pada saat ini para korban sedang dievakuasi menuju ke balai warga, sekolah/madrasah, dan sekretariat parpol. Jumlah penduduk sementara yang berhasil dievakuasi sekitar 700 jiwa.

Angin puting beliung menerjang Pulau Kelapa dan Pulau Harapan di Kepulauan Seribu, Sabtu (5/1) sekitar pukul 07.30. Sedikitnya 50 rumah dan satu masjid hancur, empat rumah rusak berat.

Sejumlah orang terluka akibat tertimpah reruntuhan rumahnya. Namun hanya seorang laki-laki berusia 35 tahun, belum diketahui namanya, dilarikan ke Rumah Sakit Bersalin di Pulau Kelapa, yang sekaligus sebagai puskesmas rawan inap.

Wakil Bupati Kepulauan Seribu Abdul Rahman ketika dihubungi membenarkan kejadian itu. Dia mengatakan, pihaknya sudah mendirikan dapur umum. Warga yang jadi korban sudah ditangani dan diungsikan ke Balai Warga di Pulau Kelapa.


Global warming, ombak meninggi 5 meter..al gore benar..kita salah..

Tuesday, January 1, 2008

hubungan yang sinkron

Kadang saya tak pernah mengerti,dan anggap bahwa smua org bisa sepaham dgn kita, klo ga sepaham mendingan ga berhubungan..atow, setiap orang bisa kita ikuti hidupnya, bisa jalan bersama setiap hari, bisa ketawa-ketiwi..tp ternyata tidak..sesuai hukum ketertarikan (Law of attraction), klo ada seorang atow sesuatu yang kita inginkan, dan dia tidak sinkron atow sepaham,ya efek yang timbul tidak seperti yang kita inginkan..
dalam suatu hubungan, harus ada kata sepaham, sbenernya..tp itulah romantika hidup, dalam suatu hubungan rumah tangga aja, yang tiap hari ktemu, pasti ada hal2 yang tidak sepaham,..dan sudah jadi cara lama, klo kita harus bisa bernegosiasi, tenggang rasa...hingga urusan itu tidak melebar, seseorang harus mengalah..atow memilih diam...setidaknya sampai urusan itu mencair dgn seiring waktu.

ADa waktunya kita ingin menyendiri, ingin bertemu kawan lama, ingin ktemu mantan..(bahaya nih :P), ingin mencari relasi bisnis baru, ingin cari kerjaan baru, ingin beribadah, ingin bermusik, berpuisi, belanja sendiri, relaksasi ke gunung, mancing, olahraga, dll, ....dan itu smua tidak mutlak harus bersama dgn kekasih anda, atow org dkt anda yang memang tidak sepaham..misal mancing dgn org yang hobinya bel anja, pasti ada hal yang bikin si hobi belanja tidak betah berlama2 memancing.dan hal itu kadang yang tidak bisa ditolerir si pemancing,..kenapa mau ikut,klo ga betah?, kenapa ngajak mancing?, mending ke seafood, ikannya tinggal makan? hehehe..
mungkin itu yang belom pernah sering saya alami..ga smua org bisa betah berlama2 dgn kita ngobrol filsafat, atow ngobrol musik, apalagi ngobrol ttg diri sendiri..dijamin tuh yang nemenin kita ga betah..heheheh.. smua ada waktunya, smua ada batasnya..
maybe i can push it till the limit, tp hasilnya dia pasti akan muntah..dan parah..trus ditinggal deh... ada waktunya kita beri dia nafas, beri dia ruang..walau di hati kita ingin selalu bersama2 selamanya..deuh romantis uyy..
tp sekali lagi kesalahan saya menulis kata beri mwmangnya kita pemiliknya, sampai ada kata beri? pemilik mutlak sih tetep saja Tuhan, dan dia sendiri tentunya..hidup2 gw, ngapain juga lo ngatur2..pasti itu tanggapannya , klo kita coba mengarahkan dia, walau hal itu jalan yang baik, misalnya..smua orang mengejar bahagia, smua org punya jalan sendiri,trus di mana, letak orang tua? letak ulama? letak dunia pendidikan? letak suami? letak pacar? letak boss? letak pembicara? letak penghibur? semuanya masih tetap ada di posisinya masing2..mereka di pakai hanya saat dibutuhkan..kasihan amat ya...ga deng, smua ada di posisinya masing2..pacar ya sebagai pacar, ga bisa jadi orang tua pake ngatur2, ulama ya ulama aja, masa jadi pacar..heuheuhe, jadi penghibur? ulama tukang bodor atuh..hehehe ..
seandainya kita tahu posisi kita masing2 mungkin dunia ini agak sedikit tenang, tidak marak, tidak maruk, tidak chaos..
maaf, gimana klo sekedar ngasih masukan, ngasih pencerahan, kasih sayang..it's okey
asal dia bisa nerima..tidak merasa terbebani..gimana kita tauya? dari tanggapan nya dong..klo kita ga ngeh?? kita ga sadar? ya itu saya aja baru sadar...
ehuheuhuehheu...enjoy aja, rileks aja, jalani aja sebagai mana mestinyah...

terus terang saya sendiri, ga tau sampai kapan kita harus mengalah, harus menjauh dulu, tanpa kehilangan moment dengannya, atow harus menghilang? ga smua org mampu terima kehilangan..termasuk saya..

yang jelas dunia ini dipenuhi dgn satu m i l y a r d lebih otak manusia, yang tidak pernah sama pikirannya, ALlahu akbar, gimana ngaturnya yah..smua punya mimpi, smua punya jalan hidup, entah sampai kapan ada benturan yang indah, hingga kita jadi sinkron..jadi hidup yang saling mengisi, saling terima, indah banget ya ..
moga2 aja saya bisa ngalamin itu.. juga anda tentunya ;)

Sunday, December 30, 2007

The Love Poems of Rumi

this is some of poetry from book, The Love Poems of Rumi,

When I am with you, we stay up all night,
When you're not here, I can't get to sleep.
Praise God for these two insomnias!
And the difference between them.

Translator: Coleman Barks

I have phrases and whole pages memorized,
but nothing can be told of love.
You must wait until you and I
are living together.
In the conversation we'll have
then...be patient...then.

Translator: Coleman Barks

Love is from the infinite, and will remain until eternity.
The seeker of love escapes the chains of birth and death.
Tomorrow, when resurrection comes,
The heart that is not in love will fail the test.

Translator: Shahram Shiva

Do You Love Me?



A lover asked his beloved,
Do you love yourself more
than you love me?



The beloved replied,
I have died to myself
and I live for you.



I’ve disappeared from myself
and my attributes.
I am present only for you.



I have forgotten all my learning,
but from knowing you
I have become a scholar.



I have lost all my strength,
but from your power
I am able.



If I love myself
I love you.
If I love you
I love myself.

puisi rumi

ika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;

karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah
menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
karena Aku-lah jalan itu.”

Wednesday, December 26, 2007

banjir-banjir-banjir





diambil dari kompas

Penyebab Banjir

Telah lama para ahli hidrologi dan ekologi menyatakan bahwa kejadian erosi tanah, selain ditentukan oleh iklim atau curah hujan, juga dipengaruhi kondisi tanah, kemiringan lereng, panjang lereng, kondisi vegetasi, dan aktivitas manusia. Dari berbagai faktor tersebut, pengaruh manusia sangat berperan penting.

Contohnya, pemeliharaan hutan yang baik dan bercocok tanam yang memerhatikan lingkungan, seperti memelihara kerimbunan vegetasi, dapat menyebabkan penurunan air larian dan erosi tanah akibat hujan.

Setiap terjadi hujan, senantiasa dihasilkan sejumlah volume air larian di permukaan tanah (cileuncang). Cileuncang akan berkurang apabila sebagian air tersebut meresap ke dalam tanah. Pada umumnya macam-macam penggunaan lahan mempunyai kemampuan berbeda dalam meresapkan atau menginfiltrasikan air hujan cileuncang ke dalam tanah. Dengan kata lain, jumlah air hujan cileuncang yang meresap ke dalam tanah dan yang mengalir di permukaan tanah akan berbeda-beda pada setiap penggunaan lahan.

Proporsi air hujan cileuncang yang mengalir di permukaan tanah pada setiap penggunaan lahan biasanya dikenal dengan koefisien aliran permukaan atau koefisien limpasan. Besarnya koefisien limpasan dapat dipengaruhi tipe tanah, kemiringan lahan, dan pengelolaan lahan oleh manusia. Menurut prakiraan secara umum, air larian di daerah hutan sebesar 2-15 persen, daerah pertanian 21-65 persen, daerah penggembalaan 17-23 persen, daerah permukiman 25-40 persen, daerah pinggiran kota dan pedesaan 35-70 persen, daerah perkotaan 50-90 persen, dan daerah industri 50-95 persen (bandingkan dengan Sinukaban, 2005).

Air larian itu juga menyebabkan erosi permukaan tanah. Menurut para ahli, telah diprakirakan bahwa secara umum hilangnya permukaan tanah akibat erosi di Pulau Jawa pada akhir 1980-an bervariasi di berbagai tata guna lahan. Misalnya, tingkat erosi di lahan pertanian tanaman semusim terbuka di tegal mencapai 138,3 ton per hektar (ha), hutan yang rusak (87,2 ton per ha), hutan (5,8 ton per ha), dan sawah (0,5 ton per ha) (Conway dan Barbier, 1990:30). Dari gambaran tersebut dapat disimak bahwa secara umum lahan pertanian semusim di tegal terbuka dan lahan hutan yang rusak tidak ditutupi vegetasi memiliki nilai erosi tinggi.

Jabar Harus Waspada

BANDUNG,(PR).-
Masyarakat diminta waspada terhadap kemungkinan terjadinya longsor di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Curah hujan yang tinggi pada masa-masa puncak musim hujan, berpotensi memicu terjadinya gerakan tanah yang menyebabkan longsor.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pengamatan Gempa Bumi dan Gerakan Tanah pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Dr. Ir. E. Kusdinar Abdurrachman, D.E.A., ketika dihubungi lewat telefon, Rabu (26/12).

"Kewaspadaan tentang bencana alam gerakan tanah terutama longsor, perlu ditingkatkan karena bersamaan dengan masuknya puncak musim hujan Desember 2007-Januari 2008 mendatang," ujarnya.

Potensi kerawanan gerakan tanah menengah dan menengah tinggi mendominasi di sejumlah wilayah di Jabar, terutama Jabar bagian selatan seperti Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, dan Kab. Bandung. Wilayah dengan tingkat kerawanan menengah tinggi yang ditandai warna merah pada peta prakiraan wilayah potensi gerakan tanah, cenderung bertambah karena terkait curah hujan yang bertambah.

Curah hujan yang tinggi akan memengaruhi kondisi batuan di Jawa Barat, yang kebanyakan merupakan batuan lepas yang bergerak mencari keseimbangan alam. Selain lapisan batuan, sejumlah gunung berapi kuarter, banyaknya lereng gunung yang terjal, serta tata lahan yang tidak tepat, turut memengaruhi pergerakan tanah.

Penyerapan air yang tidak sempurna menyebabkan air merembes ke dasar tanah hingga mencapai lapisan batuan lepas, yang memicu terjadinya longsor. Pada curah hujan yang mencapai 100 mm, air belum meresap secara merata ke dalam air. Namun, jika curah hujan sudah melampaui 100 mm, tanah sudah jenuh untuk menyerap sisa air hujan, sehingga melimpas dan menggerakkan tanah yang menimbulkan longsor.

Masyarakat yang berada di lereng gunung, di daerah sisi sungai, dan di sisi tebing harus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Jika perlu, dilatih untuk melakukan evakuasi jika tanda-tanda kejadian alam tersebut akan terjadi.

Sampai saat ini, lanjut Kusdinar, belum ada wilayah rawan longsor di Jawa Barat yang memerlukan relokasi warga. "Tapi, untuk antisipasinya, harus ada peran aktif dari masyarakat untuk memonitor langsung di lapangan. Persoalannya, pemahaman terkait bencana masih rendah. Oleh karena itu, aparat tidak boleh berhenti melakukan sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman warga tentang bencana alam," katanya.

Ia menambahkan, "Kejadian alam tidak bisa diprediksi, namun masyarakat harus mempelajari agar kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan mengurangi kerugian materi."

Sementara itu, kecepatan angin yang melanda kawasan Jawa Barat juga akan meningkat memasuki puncak musim hujan. Badan Meteorologi dan Geosifika (BMG) memperkirakan, kecepatan angin akan mencapai 20 knot, padahal kisaran normalnya 12-15 knot. Meningkatnya kecepatan angin itu diduga dipicu oleh munculnya pusat angin bertekanan rendah di kawasan selatan perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). (A-158)***
Longsor dan Banjir di Jateng
Korban Tewas 88 Orang


SEMARANG, RABU - Bencana tanah longsor dan banjir yang melanda beberapa daerah di Jawa Tengah, hingga pukul 21.00 WIB telah mengakibatkan 88 orang meninggal dunia dan ribuan rumah penduduk mengalami rusak berat dan ringan.

Dari jumlah tersebut 71 orang meninggal akibat tanah longsor di Kabupaten Karanganyar tersebar di beberapa lokasi, yaitu di Jatiyoso 10 orang, dukuh Ledoksari, Tawangmangu 37 orang, Ngargoyoso dua orang, Kerjo lima orang, Jenawi tiga orang, Jumapolo delapan orang Jaten seorang dan Karanganyar Kota dua orang.

Sampai kini baru lima korban yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, yaitu Jami (30), Azka (1), Sumardi (25), Putri (2 ), dan Sri Lestari (25) lima jenazah tersebut sekarang sudah dimakamkan di pemakaman umum di daerah tersebut.

Upaya evakuasi masih dilakukan petugas pemda setempat, polisi, dan TNI dengan dibantu masyarakat setempat, tetapi karena hari sudah malam dan lokasi bencana yang berada di daerah pegunungan, akan dilanjutkan hari Kamis (27/12).


Sungai Batanghari Siaga Satu



JAMBI, KOMPAS - Meningkatnya curah hujan dalam dua pekan terakhir telah mengakibatkan tinggi muka air Sungai Batanghari di wilayah Kota Jambi kini mencapai 13,89 meter. Pemerintah Provinsi Jambi menyatakan status siaga satu banjir.

Dengan status siaga satu ini, pengamatan di stasiun duga air otomatis Sungai Batanghari di pos Tanggo Rajo, Kota Jambi, makin ditingkatkan menjadi setiap tiga jam. Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) juga menyiapkan 50.000 bahan banjiran berupa karung berisi pasir, serta bronjong untuk mengantisipasi banjir dan longsor pada tepian sungai.

“Karung pasir dan bronjong siap kami bagi-bagikan secara gratis kepada seiap kabupaten yang membutuhkan,” tutur Nino Guritno, Kepala Dinas Kimpraswil Provinsi Jambi, Rabu (26/12).

Menurut Nino, tinggi muka air (TMA) Sungai Batanghari naik sangat pesat pada musim penghujan kali ini. “Kalau pada tahun-tahun sebelumnya, muka air sungai baru akan naik pesat sekitar bulan Februari. Tapi kali ini, air sudah naik drastis menjelang akhir tahun,” tuturnya.

Menurut Sebastian, koordinator pemantauan stasiun duga air Sungai Batanghari, TMA Batanghari memang naik drastis selama Desember. Pada pekan pertama Desember, TMA mencapai rata-rata 12,25 meter, naik menjadi 13,55 meter pada pekan ketiga. Pekan ini, TMA telah mencapai 13,89 meter.

Saat ini, enam kabupaten di Jambi mengalami banjir, yaitu Tanjung Jabung Timur, Kota Jambi, Muaro Jambi, Batanghari, Bungo, dan Kerinci.

Dalam pantauan di Kampung Pulau Pandan, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, luapan air Sungai Batanghari telah membanjiri sekitar 30 rumah. Sedangkan warga yang meski tidak kebanjiran karena menempati rumah-rumah panggung, juga terisolir. Mereka harus memanfaatkan perahu atau sampan untuk ke sekolah atau ke tempat kerja.

Sekitar 1.600 hektar pada 11 kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, terendam banjir, dari total 3.240 hektar lahan pertanian. Ketinggian banjir beragam, mulai dari setengah hingga satu meter. Sebanyak 209 hektar di antaranya telah puso.

Di Kerinci, sebanyak 450 hektar areal persawahan yang baru ditanami juga mengalami banjir. Di Batanghari, banjir menggenangi 159 hektar sawah yang tengah disemai, serta lebih dari 200 hektar kebun palawija, karet, dan sawit. Banjir paling parah terjadi di Muarabulian, Muaratembesi, Maro Sebo Ilir, Maro Sebo Ulu, dan Mersam. Banjir juga terjadi di Muaro Jambi serta wilayah seberang Sungai Batanghari di Kota Jambi.

Akibat musibah ini, menurutnya, masyarakat terpaksa mengundurkan waktu tanam padi. “Benih-benihnya sudah rusak, tidak bisa lagi ditanami. Namun kami tengah akan memberi bantuan benih bagi para petani,” tutur Sehan, Humas Pemkab Batanghari.

Kemudian di Kabupaten Wonogiri, akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Tirtomoyo dan Manyaran mengakibatkan 17 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, baru lima korban yang berhasil dievakuasi.

Bencana tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Magelang yang mengakibatkan delapan rumah penduduk Desa Madyogondo, Desa Girirejo, dan Desa Pagergunung Kecamatan Ngablak mengalami rusak.

Sementara itu bencana banjir terjadi di Solo akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo. Bencana ini mengakibatkan 26.720 jiwa (5.344 kepala keluarga) dari sembilan kelurahan di Solo mengungsi akibat rumahnya terendam air bah.

Sebanyak 5.344 KK yang kebanjiran itu sekarang mengungsi di posko-posko yang telah disediakan di kantor-kantor kelurahan atau tempat lainnya yang tidak kebanjiran.

Korban banjir sebanyak itu berasal dari daerah Sudiroprajan 173 KK, Jebres 318 KK, Pucangsawit 613 KK, Jagalan 812 KK, Gandekan 920 KK, Sangkrah 445 KK, Semanggi 953 KK, Joyosuran 195 KK, dan Joyontakan 1.650 KK.

Sementara itu banjir yang menggenangi ribuan hektare areal pertanian di Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Grobogan Jawa Tengah ditaksir menyebabkan kerugian hingga Rp240 miliar.

Untuk membantu korban tanah longsor di Kabupaten Karanganyar, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng telah menyiapkan 100 kantong mayat, tim medis, dan obat-obatan.

Selain itu, Plt. Kepala BIKK Jateng, Urip Sihabudin, mengungkapkan, telah dibuka tujuh dapur umum dengan perbekalan logistik beras, mie, dan bahan makanan lain yang jumlahnya mencukupi.

"Poliklinik desa (polindes) yang berada di kawasan bencana juga buka 24 jam. Kita juga menyiapkan 16 perahu karet di daerah rawan banjir. Bagi korban yang meninggal dunia, Pemprov Jateng memberikan santunan Rp2,5 juta/orang," katanya. (Ant/Mbk)

Banjir Bandang di Kabupaten Malang
300 Rumah Tenggelam, Satu Orang Hilang


Laporan Wartawan Surya Imam Taufik, Silvinita W dan Deni Bachtiar

MALANG, RABU - Banjir bandang menimpa Desa Sitiarjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang sejak Rabu (26/12) pagi. Akses jalan ke lokasi yang terputus menyulitkan regu penolong masuk ke desa yang menjadi langganan banjir bandang itu.

Bagyo Setyono, anggota Satkorlak Kabupaten Malang juga Kepala Sub bagian Pengamanan Sandi dan Telekomunikasi Pemkab Malang, mengatakan regu penolong sulit masuk karena sejumlah ruas jalan tertimbun longsoran tanah. "Kami harus mengerahkan alat berat sebelum masuk ke sana. Informasi awal, ada satu warga hilang," ujar Bagyo.

Regu penolong yang dikirim ke daerah bencana antara lain, tim Malang Selatan Rescue, anggota masyarakat dan instansi terkait. Satkorlak juga menerjunkan 12 perahu karet untuk mengevakuasi warga dan mendistribusikan bantuan ke daerah bencana. Dilaporkan, sedikitnya 300 rumah di Desa Sitiarjo itu yang tenggelam hingga tiga meter.

Sumbermanjing Wetan hanya satu dari sekian kecamatan di Kabupaten Malang yang menderita akibat hujan yang turun deras tanpa henti sejak beberapa hari terakhir. Di Kecamatan Wajak, dua orang tewas terseret arus Sungai Bendo. Kedua orang itu adalah Ngatiin (37) dan Solim (30). Saat kejadian, Ngatiin sedang buang hajat, Rabu sekitar pukul 12.00 di tepi Sungai Bendo yang meluap. Sedangkan Solim tewas setelah tidak bisa kabur dari truk pasirnya yang diseret arus sungai.

Sementara itu di Kecamatan Pakis jembatan Merangin jebol, perumahan Asabri tergenang 50 cm, sungai Jilu di sekitar Pasar Pakis naik hingga 1 meter di bawah jembatan. Di Desa Taji Dusun Umbutlegi tanah longsor menimpa rumah warga tiga luka parah.

Di Kecamatan Kasembon, jalan jurusan Malang-Kediri sempat putus karena longsor, tetapi sudah dibetulkan tim Provinsi Jatim. Tanah longsor juga terjadi di Desa Bumirejo dan Amandanom Kecamatan Dampit. Sementara di Desa Purwodadi dan Lenggoksono Kecamatan Tirtoyudo sungai meluap dan memicu tanah longsor.

Thursday, December 13, 2007

UNFCCC di BALI



“Negara maju bikin polusi dan kita disuruh membersihkan. Hutan kita malah dijadikan toilet untuk menyerap emisi. Apalagi harga hutan dihargai murah hanya USD 5 per hektar. Inilah yang dikatakan agenda nasional,”

Padahal untuk sekitar 80 pesawat yang terbang di Bandara Ngurah Rai dihasilkan 3.840 ton CO2/ per hari, selama masa konferensi loh...,blom penggunaan listriknya, AC, komputer, kertas yang terbuang..

Seperti diakui Presiden Yudhoyono pada saat mengikuti High Level Event on Climate Change di New York, September 2007, situasi kita sudah lampu kuning. Maka, tampaknya Indonesia akan memaksimalkan gagasan Reduced Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). Kita akan menghitung pengikatan karbon di hutan-hutan dan lahan gambut kita dan menukarkannya dengan kredit dari negara-negara penghasil emisi. Kita berharap mendapatkan kucuran uang sebagai ''imbalan'' telah menjaga paru-paru dunia.

Lain dengan CDM yang akan masuk periode implementasi pada 2008-2012, skema REDD adalah hal yang masih amat mentah. Bisa jadi baru belasan tahun lagi berjalan. Kita tentu tak bisa menunggu skema ini berjalan untuk berhenti merusak hutan. Kita justru harus berangkat dari kesadaran bahwa kelestarian alam bukanlah komoditas.

Kita ada dalam daftar korban pertama dampak pemanasan global. Kemarau kita kian panjang, merusak lahan-lahan pertanian dan menggoyahkan ketahanan pangan. Musim hujan kita kian pendek, namun dengan curah sangat tinggi, membawa bencana banjir dan longsor di mana-mana. Pulau-pulau kecil kita akan tenggelam. Jakarta pun akan kian kerap terendam.

Untung Australia, akhirnya bersedia untuk meratifikasi proposal Kyoto. Australia resmi meratifikasi Perjanjian Kyoto setelah Perdana Menteri Kevin Rudd, Senin, menandatangani instrumen ratifikasi yang memberikan jalan bagi negara itu menjadi anggota penuh Protokol Kyoto sebelum akhir Maret 2008.

"Ini adalah aksi resmi pertama pemerintah Australia yang baru. Ini menunjukkan komitmen pemerintahan saya untuk menangani perubahan iklim," katanya dalam sebuah pernyataan pers.

Peratifikasian Perjanjian Kyoto itu, kata PM Rudd, telah dipertimbangkan dan disepakati oleh pertemuan Dewan Eksekutif Pemerintah Senin pagi. Bahkan Gubernur Jenderal Michael Jeffery telah pun memberikan persetujuannya pada langkah pemerintah atas permintaan dirinya, kata PM Rudd.

Di bawah aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ratifikasi Protokol Kyoto itu baru berlaku setelah 90 hari setelah instrumen ratifikasi diterima PBB. "Jadi Australia baru akan menjadi anggota penuh Protokol Kyoto sebelum akhir Maret 2008," katanya.

PM Rudd mengatakan, bergabungnya Australia ke dalam Protokol Kyoto itu merupakan "langkah maju yang signifikan" dalam upaya Australia ikut merespon dampak negatif perubahan iklim di dalam negeri dan bersama-sama masyarakat internasional.

Dengan keikutsertaan resmi Australia dalam perjanjian ini, Australia berkewajiban memenuhi target seperti mematok target pengurangan emisi hingga 60 persen pada level 2.000 hingga tahun 2050, dan membentuk skema perdagangan emisi nasional pada 2010, katanya.

Issue Bisnis karbon hutan (carbon trading) melalui mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism/CDM) di bawah Protokol Kyoto juga semakin menguat.

Banyak lembaga yang berkeinginan memulai program tersebut, namun syarat program Protokol Kyoto hingga kini belum diratifikasi Indonesia.Proposal BOS

Ketua Dewan Pengarah Yayasan Balikpapan Orangutan Survival (BOS) Willie Smits mengatakan, pihaknya kini sudah memulai carbon trading skema CDM yang diistilahkan BOS sebagai carbon offset. Proyek tersebut menggunakan area hutan gambut bekas Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar untuk konservasi orangutan.

Menurut Willie, BOS telah mengajukan proposal dengan perusahaan Shell Canada. Shell sendiri memang sedang mencari karbon hutan sebanyak satu juta ton karbon per tahun selama 30 tahun. "November nanti Shell akan mengunjungi BOS untuk masalah ini," katanya.

Jika kontrak dengan Shell berhasil, program itu akan menjadi program yang pertama kali berhasil di Indonesia untuk program karbon hutan skema CDM. Selain skema karbon hutan, menurut Willie, program tersebut juga menggabungkan program debt for nature swap (penghapusan atau pengurangan utang luar negeri lewat pertukaran program konservasi).

Dana carbon offset tersebut untuk membantu masyarakat lokal, me-monitoring area program, patroli dan penegakan hukum, penelitian, dan pemprov Kalteng juga mendapat bagian.

Kontroversi CDM adalah memang jadi ajang jual beli hutan indonesia dituker dgn 5$ per hektar, asal itu hutan jgn sampe di ganggu gugat..tp skema avoided deforestation (pencegahan deforestation), dgn menjaga hutan, secara total, dgn angkatan bersenjata misalnya, memang bagus untuk mengurangi pembalakan hutan, (bob hasan, adelin lis :P, achtung baby!!), tapi itu juga mengusir hak tanah adat, misal suku dayak asli kalimantan, yang memang tinggalnya di hutan, dan hidup dari hutan.

Keberadaan lahan gambut di Indonesia juga semakin dirasakan peran pentingnya, terutama dalam hal kemampuan menyimpan karbon dioksida (CO2), salah satu jenis gas rumah kaca, dan siklus hidrologi serta memelihara keanekaragaman hayati.

Lahan gambut, walaupun hanya sekitar 3 persen dari total luas daratan Bumi, sanggup menyimpan 30 persen karbon dunia, kata Ketua Himpunan Gambut Indonesia, Bambang Setiadi, di Jakarta, Selasa.

Luas lahan gambut di seluruh dunia berkisar 38 juta hektar dengan lebih dari separuhnya berada di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia diperkirakan seluas 26 juta ha (Driessen dan Supraptohardjo, 1974), dan hampir semuanya ada di luar Pulau Jawa - Pulau Sumatera 8,9 juta hektar, Pulau Kalimantan 6,3 juta hektar, dan Pulau Irian 10,9 juta hektar.

Menurut Bambang Setiadi, Ketua Himpunan Gambut Indonesia, gambut adalah onggokan bahan organik yang tersusun dari bahan kayuan atau lumut yang terjadi akibat kecepatan penimbunan lebih tinggi dibandingkan dengan penguraiannya.

Di Indonesia, kecepatan penimbunan diperkirakan berkisar antara 8-40 cm per 100 tahun. Perbedaan kecepatan ini disebabkan oleh suhu dingin (di daerah non-tropis) dan curah hujan yang tinggi (daerah tropis). Proses pembentukan gambut berlangsung selama ribuan tahun. Gambut Kalimantan, contohnya, terbentuk sekitar 800 hingga 5.000 tahun yang lalu.

Ketebalan gambut sangat bervariasi antara 0,5 meter hingga 20 meter."Kawasan gambut di Kalimantan dan Sumatera yang kedalamannya sampai 20 meter bisa 200.000 km persegi, dan diperkirakan simpanan karbon mencapai 50 miliar ton," kata Bambang.

Ia melanjutkan, dengan berlakunya Protokol Kyoto, harga satu ton emisi karbon sama dengan 5-10 euro (Rp56.697 sampai Rp 113.395). "Indonesia harus mendesak agar kelestarian lahan gambut mendapat insentif dari dunia internasional, lewat Mekanisme Pembangunan Bersih ("Clean Development Mechanism/CDM")," kata Bambang.

Menurut dia, saat ini Indonesia tengah memperjuangkan "bioright" atau hak atas hayati agar dunia Internasional memberikan dana perbaikan sosio-ekonomi penduduk sekitar hutan, lahan gambut, dan sumber daya alam lainnya agar tidak merusak kondisi ekosistem alami tersebut.


Memang Indonesia diklaim sebagai pehghasil gas karbon ke 3 terbesar di dunia..Jika melihat angka jumlah keseluruhan sepeda motor yang lalu lalang di jalanan Indonesia. Saat ini tidak kurang dari 19 juta unit sepeda motor yang dimiliki penduduk. Sementara angka mobil masih jauh di bawah itu, kurang lebih hanya 7 juta unit.

Fenomena yang sama juga terlihat di Kota Bandung yang memperlihatkan kepemilikan sepeda motor yang lebih besar dibandingkan kendaraan roda empat. Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Bandung, seperti tercantum pada situs Bandung go.id/dishub adalah 518.172 unit, dengan proporsi kendaraan roda dua sebanyak 296.230 unit dan roda empat 221.942 unit, Jika diasumsikan satu sepeda motor mengkonsumsi empat liter bensin sehari,mobil 10 liter sehari total bensin yang digunakan 1.184.920 liter, dan mobil 2.219.420 liter, Hasil pembakaran karbonnya perhari adalah 8.170.416 kg CO2..
Kebayang lah klo itu pesawat bolak balik jakarta - bali.., juga bayangin klo di bandung, ternyata ada mesin pembakaran besar , penghasil CO2 sebesar 8 juta kg, dan membutuhkan bensin sebanyak 3.4 juta liter.. damn..so hot!!, neraka sudah datang di bandung yg adem ini..
juga di dunia

Friday, November 16, 2007

Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference) di Bali 3-14 Desember 2007

Pada Conference of the Parties (COP)13/ Parties to the Protocol (MOP)-3 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang akan diadakan pada tanggal 3-14 Desember 2007 di Bali, Indonesia akan memfokuskan untuk mendesakkan 4 (empat) isu penting untuk dibahas yaitu:
1. Pelaksanaan Program Adaptasi Perubahan Iklim
Indonesia menganggap penting agar negara berkembang segera mempersiapkan diri dari kemungkinan bencana yang terkait perubahan iklim seperti badai tropis, banjir, kekeringan, longsor, abrasi, erosi, puso, dan gangguan kesehatan yang semakin sering terjadi dengan besaran dampak/resiko yang semakin besar.
Hal utama yang perlu segera ditangani di negara berkembang adalah peralatan/teknologi untuk memprediksi cuaca yang akurat dan canggih termasuk sumberdaya manusia dan dukungan pendanaan.
Dana global yang berasal dari hasil share of proceed sebesaar 2% dari proyek CDM untuk pengelolaan adaptasi di seluruh dunia dinilai sangatlah kecil. Oleh karena itu sumber pendanaan lain perlu dicari, misaInya ODA (Overseas Development Assistance).
Mengenai institusi operasional pengelolaan dana adaptasi, negara maju sangat menginginkan GEF (Global Environmental Facilities) diberi mandat mengelola dana tersebut. Sebaliknya kelompok negara berkembang (G 77 dan China) sangat menginginkan bukan GEF. Namun Indonesia tidak mempermasalahkan institusi mana yang akan diberi mandat selama prosedur dan mekanisme-nya jelas, sederhana, dan transparan.
Posisi Indonesia :
a. Mendorong segera ditetapkannya institusi pengelola dana adaptasi dengan mekanisme yang tidak rumit;
b. Kemudahan dalam pertukaran informasi terkait dengan permodelan adaptasi perubahan iklim;
c. Perlu segera mendapatkan peralatan/teknologi untuk memprediksi cuaca yang akurat dan canggih;
d. Peningkatan kapasitas dalam adaptasi perubahan iklim.
2. Reducing Emission from Deforestation in Developing Country (REDD)
REDD terkait dengan 2 proposal utama dari Papua Nugini-Kosta Rika clan Brazil, yaitu:
a. Papua Nugini dan Kosta Rika (Coalition of tropical rainforest nations) mengusulkan adanya insentif bagi negara yang melakukan kegiatan konservasi hutan.
b. Brazil mengusulkan bagi setiap negara yang mampu melakukan usaha penurunan laju deforestasi terhadap baseline-nya, perlu mendapatkan kompensasi.
Pada saat COP-12 dan COP/MOP-2 UNFCCC di Nairobi, Kenya tahun 2006, posisi Indonesia adalah dapat memahami kedua proposal tersebut.
Posisi Indonesia :
a. Memasukkan RE (Reduction Emission) dan AD (Avoiding Deforestation) dengan memilah hutan ke dalam disturbed d an undisturbed forests dalam metode penghitungan kompensasi dari pengurangan emisi, yang dapat diimplementasikan di hutan dengan fungsi produksi dan/atau konservasi, serta mengajukan metodologi untuk deforestasi;
b. Mekanisme pendanaan market dan non-market, dengan tahapan persiapan melalui mekanisme non-market di bawah konvensi, dan dalam waktu yang sama mempersipkan perangkat untuk memasuki mekanisme pasar;
c. Memasukkan "degradasi hutan" dalam perhitungan;
d. Memasukkan mekanisme Forest Climate Related Mechanism (FCRM) yang bertujuan untuk mengakomodir segala kegiatan yang berkaitan dengan kehutanan, seperti Sustainable Forest Management (SFM) baik hutan buatan maupun hutan alami, pengelolaan hutan, dan rehabilitasi penurunan lahan melalui aforestasi dan reforestasi.
3. Transfer Telknologi
Pola transfer teknolog! dapat mengadopsi dari pola yang dilakukan oleh multilateral fund di bawah Protokol Montreal/Konvensi Wina, yaitu melakukan transfer teknologi ramah lingkungan kepada negara berkembang dalam penghapusan bahan perusak lapisan ozon. Hal serupa dapat dilaksanakan melalui mekanisme CDM dengan pendekatan penurunan gas rumah kaca secara sektoral dan programatik CDM.
Transfer teknologi ramah Lingkungan disebarluaskan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan sumberdaya yang ada di negara berkembang. Partisipasi sektor swasta merupakan isu utama, mengingat terbatasnya sumber pendanaan dari pemerintah maupun public funding. Di samping itu, sektor swasta mendominasi penguasaan teknologi.
Posisi Indonesia:
a. Dalam upaya transfer teknologi di bawah payung UNFCCC maupun Protokol Kyoto, diusulkan menggunaan metodologi pendanaan yang digunakan oleh Multilateral fund (MLF);
b. Dalam transfer teknologi disertai dengan program R&D (Research & Development) dan disesuaikan dengan teknologi yang sedang dikembangkan di Negara maju maupun di dalam negeri;

c. Diperlukan ketersediaan dana dengan mekanisme pendanaan yang tepat dan implementatif untuk mendukung pelaksanaan transfer teknologi;
4. Keberlanjutan komitmen atas pelaksanaan CDM dalam Protokol Kyoto
(Komitmen Negara maju dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca-GRK)
Pasca 2012 negara maju pada umumnya meminta negara berkembang terutama China dan India (large emmiter) untuk mempunyai komitmen penurunan emisi gas rumah kaca. Selain itu, Rusia mengusulkan proposal yang meminta Negara. berkembang berkomitmen secara sukarela untuk menurunkan emisi. Posisi G77 menolak kedua usulan komitmen tersebut,
Prinsip Common but Differentiated Responsibilities tetap menjadi posisi Indonesia untuk pasca 2012, Indonesia mengusulkan agar Negara maju tetap memiliki komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan mendorong pelaksanaannya, diantaranya melalui CDM. Salah satu upaya untuk mendorong pelaksanaan CDM adalah dengan menyederhanakan mekanisme registrasi di Executive Board.
Posisi Indonesia:
a. Meminta Negara maju tetap berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kacanya dan mendorong pelaksanaan CDM di negara berkembang pasca 2012;
b. Meminta negara maju yang belum meratifikasi Protokol Kyoto untuk segera meratifikasi agar terwujud penurunan emisi GRK.
Untuk memperkuat substansi keempat tersebut di atas, telah dibentuk kelompok kerja (Working Group) yang anggotanya terdiri atas instansi terkait, perguruan tinggi, dan LSM. Kelompok kerja tersebut adalah:
1. Adaptasi (Ketua: KLH);
2. Kehutanan (Ketua: DEPHUT);
3. Mekanisme Pendanaan (Ketua: BAPPENAS);
4. Mitigasi (Ketua: KLH);
5. Energi (Ketua: Dep. ESDM);
6. Post Kyoto (Ketua: DEPLU);
7. Transfer Teknologi (Ketua: BPPT).
Beberapa hal yang telah disampaikan oleh setiap Kelompok kerja adalah:
1. Adaptasi
Usulan posisi yang akan diperjuangkan adalah:
Pelaksanaan program adaptasi (Five-year program of Work) secara lebih nyata, khususnya:
• Pelaksanaan persiapan dalam menghadapi bencana yang tekait perubahan iklim;
• Penyediaan dan pertukaran data akurat secara regional;
• Pendirian pusat prediksi regional;
• Pengembangan permodelan komputer untuk memprediksi dampak dan mengurangi resiko bencana perubahan iklim.
Memperjuangkan agar program adaptasi dapat dilaksanakan oleh Negara berkembang dengan dukungan dana yang memadai. Usulan sumber pendanaan berasal dari: SOP (Share of Proceed)-CDM, ODA (Official Development Assistance) diluar alokasi 0,7%, Dana DRR (Disaster Risk Reduction), Dana M DGs (Millenium Development Goals).
2. Kehutanan
Hal-hal yang dipersiapkan mencakup kajian mekanisme insentif, aspek teknis dan metodologis serta identifikasi topik-topik riset untuk mendukung implementasi mekanisme REDD (mitigasi) dan adaptasi.
3. Mekanisme Pendanaan
Usulan posisi adalah:
Seluruh isuAdaptation Fund dapat diselesaikan dalam COP/MOP di Bali; Menemukan berbagai kemungkinan pembahasan Financing Mechanism selain Adaptation Fund (misalnya Trust Fund, ODA).
4. Mitigasi
Usulan posisi adalah:
• Mengembangkan energi terbarukan dan energi bersih, Meningkatkan Proyek CDM , misalnya mengembangkan aforestasi dan reforestasi (penghutanan kembali)
• Mengembangkan transportasi (MRT, efisien dan energi bersih-terbarukan, non-motorised)
• Mengembangkan pengelolaan sampah (konversi menjadi energi)
5. Energi
Usulan posisi adalah:
• Perlu adanya komitmen dari pihak swasta penghasil limbah untuk mengurangi emisinya sekitar 50% untuk diubah menjadi energi;
• Menyusun skenario (ideal dan reafistis) untuk dijadikan acuan bagi perencanaan di masa datang;
• Program pengurangan emisi dilakukan setiap departemen.
6. Post Kyoto
Usulan posisi ini adalah mengacu pada proposal Rusia dan mengusulkan kemungkinan second review.
7. Transfer Teknologi
Usulan posisi ini adalah:
• Sumber pendanaan dan ketersediaan teknologi;
• Kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pendanaan tersebut;
• Skema pendanaan dengan sistem yang inovatif dan mekanisme yang diperlukan;
• Sistem monitoring dan pelaporan;
• Sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku;
• Sesuai dengan keadaan lingkungan.

Sumber: http://www.menlh.go.id/unccc/web/UntitledFrameset-50.htm